Senin, 12 Desember 2016

Burung pak lurah

Pak Lurah memiliki hobi memelihara burung bermacam-macam jenisnya. Pada suatu pagi, burungnya hilang semua karena dicuri orang. Merasa ulah si maling sudah keterlaluan maka pak lurah merencanakan untuk membawa masalah ini di pertemuan warga. Sekitar 200 warga hadir.

Setelah berbicara panjang lebar soal moral, si pak lurah bertanya “Siapa yang punya burung?”

Seluruh laki-laki yang hadir segera berdiri.

Menyadari kesalahannya dalam bertanya pak lurah buru buru berkata ,”Bukan itu maksud saya? Maksud saya adalah, siapa yang pernah melihat burung?”

Seluruh warga wanita berdiri.

“Wah...gawat…” pikir pak lurah.

Dengan muka marah ia berkata, “Maksud saya siapa yang pernah lihat burung bukan miliknya?”

Separuh dari wanita yang hadir berdiri.

Muka Pak Lurah semakin marah, dan juga makin gugup, ia berkata lagi, ”Maaf sekali lagi, bukan ke arah situ pertanyaan saya, maksud saya adalah siapa yang pernah melihat burung saya?”

Segera 5 wanita berdiri.

Pak Lurah langsung lari pontang-panting melihat Bu Lurah berlari dengan membawa sapu lidi.

Koboi kehilangan kuda

Seorang koboi pergi ke bar naik kudanya. Setelah mengikat kudanya, ia masuk ke dalam, pesan minuman, lalu bergegas pergi. Ternyata kudanya hilang! Dia masuk kembali ke bar sambil berteriak, "Siapa yg mencuri kuda saya?"

Tak seorang pun menjawab.

Si koboi berkata lagi, "OK. Saya tunggu 10 menit. Jika dalam waktu itu tidak ada yang mengaku, terpaksa saya akan melakukan apa yang telah saya lakukan di Texas. Dan terus terang aku tidak suka melakukan lagi hal itu."

Satu per satu pengunjung berlari terbirit2 keluar. Sampai tak ada seorangpun berada di dalam Bar, kecuali si Bartender. Saat si Koboi melongok keluar, ternyata kudanya telah kembali berada di tempatnya semula.

Dengan gemetar ketakutan bercampur senang karena kuda si Koboi telah kembali, bartender bertanya, "Apa yang telah kamu lakukan di Texas?"

Koboi itu menjawab, "Saya terpaksa berjalan kaki pulang."

Saudara kembar

Tono mempunyai sebuah perahu dayung yang sudah sangat tua. Kok kebetulan suatu hari istrinya si Tino itu meninggal bersamaan dengan hari tenggelamnya perahu dayung si Tono itu. Beberapa hari kemudian seorang wanita tua melihat Tono, dan secara tidak sengaja salah mengenalinya sebagai Tino yang kehilangan istrinya itu. Kata wanita itu kepada Tono,

"Saya turut sedih atas kehilangan anda. Anda pasti merasa sedih."

Nah si Tono mengira bahwa wanita itu berbicara tentang perahu dayungnya itu, menjawab:

"Sebenarnya sih saya bisa dibilang malah senang karena bisa menyingkirkannya. Dia sudah amat tua sekali bahkan sudah jelek dari pertama kalinya. Bagian bawahnya sudah lapuk dan berbau amis sekali. Bagian punggungnyapun sudah sangat jelek dan lubang di bagian depannya sudah sangat lebar. Setiap kali aku menggunakannya, lubangnya bertambah besar dan dia bocor tidak karuan. Saya kira yang mengakhirinya adalah ketika saya menyewakan dia kepada 4 orang pemuda yang sedang bersenang-senang tempo hari. Saya sudah memperingatkan mereka bahwa dia sudah tidak begitu enak dipakai tapi mereka masih juga mau menggunakannya. Mereka berempat mencoba masuk ke dalam bersamaan dan akhirnya dia terbelah persis di tengah- tengah."

Wanita tua itupun pingsan